Arsip Kategori: Kaba Barito

Uda dan Uni, Panggilan Khas Minangkabau yang Hilang Ditelan Waktu

Asli Minang Community

Panggilan khas Minang yang Lama Hilang

Tidak bisa dipungkiri, panggilan khas Orang Minangkabau atau Sumatera Barat adalah “Uda” dan “Uni”, juga ada sebutan “Ajo” dan “Uniang”.

Panggilan ini kerap digunakan pada Orang Minang di kampung atau Orang Padang di rantau.

Tapi sayang, panggilan tersebut sudah mulai hilang dan jarang terdengar di telinga kita.

Uda Uni dan Ajo Uniang

Panggilan “Uda” dan “Uni” berlaku hampir seluruh daerah Sumatera Barat, seperti di Kota Bukittinggi, Padang, Padangpanjang, Kabupaten Agam, Dharmasraya, Lima Puluh Kota, Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat, Pesisir Selatan, Sijunjung, Solok, Solok Selatan, Tanah Datar, Payakumbuh, Sawahlunto, dan Solok.

Tapi ada juga panggilan “Ajo” dan “Uniang” panggilan ini kerap jadi sebutan di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman.

Sebutan Umum Rang Minang

Panggilan untuk kaum laki-laki yaitu “Uda” dan bagi kaum perempuan yaitu “Uni”, dari fakta di atas bisa dikatakan sebagai sebutan paling umum di Sumatera Barat.

Tapi juga ada sebutan “Ajo” dan “Uniang” yang juga merupakan bagian dari budaya Minangkabau.

Sebutan khas yang Mulai Hilang

Barangkali hampir semua kita merasakan bahwa ada sesuatu hal yang hilang ketika pulang kampung ke Bukittinggi dan kota besar lainnya di Sumbar.

Hampir sebagian besar putra putri kelahiran 80an keatas memanggil kakak pria dengan sebutan “Abang” dan kakak perempuan dengan panggilan “Kak”.

Pengalaman Kita Semua

Sebagian besar kita yang kalau belanja di Bukittinggi, para pedagang/pelayan yang usia yang lebih muda sering berkata “bali apo Bang” atau “mancari apo Kak”

Sama pula kalau naik angkot , juga ditanya “tujuan kama Bang”. Atau dengan pertanyaan yang lain seperti “Pai Kama Kak”

Abang dan Kak Bukan Panggilan Asli Minang

Semakin seringnya pemakaian Abang dan Kak, menjadi fakta menyakitkan yang kita terima, yang mengakibatkan panggilan “Uda” dan “Uni” makin hilang

Sementara panggilan “Abang” itu merupakan ciri khas panggilan di daerah lain seperti Betawi, Medan, dan Melayu Riau.

Demikian pula dengan penggilan “Kak”, hampir sama dengan daerah asalnya panggilan Abang tadi

Gejala Pudarnya Semenjak tahun 1980-an

Sejak tahun 1980an, di Sumatera Barat mulai menjalar penyakit dengan sebutan “Abang” dan “Kak”. Seiring pula dengan lunturnya panggilan “Uda” dan “Uni” dan Ajo Uniang.

Hal ini bisa berlanjut kepada generasi berikutnya, anak-anak mereka diajari untuk panggil “Abang” dan “Kak” kepada yang lebih tua.

Jika ini berlanjut terus kepada generasi berikutnya, bisa dipastikan panggilan dan ciri khas kebanggan urang Minang  akan pudar dan hilang dari Bumi Minang.

Kita Di Rantau

Sebagai perantau, orang-orang luar Minangkabau akan memanggil kita dengan sebutan “Uda” dan “Uni”.

Panggilan tersebut merupakan wujud hormat dan penghargaan mereka kepada kita sebagai orang Sumatera Barat.

Ini artinya bahwa panggilan “Uda” dan “Uni” merupakan aset budaya dan kultur khas yang bernilai sangat tinggi.

Contoh Empiris

Orang Jawa pun akan bangga dengan panggilan “Mas” dan “Mbak”. Demikian pula dengan  orang Sunda akan sangat terhormat jika dipanggil “Akang” dan “Teteh”.

Demikian pula yang berlaku untuk suku-suku lainnya, baik dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sampai daerah timur lainnya.

Bagaimana dengan Kita

Kenapa kita orang Minang mulai melunturkan kebanggaan budaya kita sendiri? Seharusnya kebanggaan itu terus diajarkan dan dilestarikan kepada anak-anak dan generasi berikutnya.

Kesimpulan dan Saran

Sebelum terlambat, marilah kita mengajak kepada putra putri Minang di kampung halaman dan di perantauan,  saatnya kita lestarikan kembali panggilan kebanggaan“Uda” dan “Uni” untuk putra putri Minang.

Mari ajarkan kembali kepada anak-anak dan keponakan kita utk panggilan “Uda” dan “Uni” kepada kakaknya dan orang yang lebih tua.

Hebatnya Orang Minang

Banyak sekali prestasi Orang Sumatera Barat. Minang merupakan salah satu suku di Nusantara yang kaya budaya, melahirkan pemimpin dan pahlawan bangsa, dihornati karena jiwa dagangnya, terkenal dengan panggilan “Uda” dan “Uni” nya.

Action Plan

Untuk itu, marilah kita wujudnya hal tersebut baik di sekolah, kampus, pasar, dan tempat lainnya

Sebaiknya para guru, dosen dan pengajar juga turut membantu mendorong anak didiknya bersama para orang tua untuk memasyarakatkan kembali panggilan “Uda” dan “Uni” untuk putra putri Minang tercinta.

Lasuah, Objek Wisata Lembah Harau Akan Dioptimalkan

Asli Minang Community

Salah satu objek wisata yang menjadi bagian penting dari pesona Minangkabau adalah Lembah Harau.

Kawasan ini menjadi andalan bagi Provinsi Sumatera Barat pada umumnya, dan Kabupaten Lima Puluh Kota pada khususnya.

Dukungan dari Pemkab Lima Puluh Kota

Melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota terus melakukan inovasi untuk mengoptimalkan wisata Lembah Harau.

Di Sarilamak kemarin, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga Kabupaten Lima Puluh Kota, yang bernama Yatmiko pun bicara.

“Ketika berbicara tentang Harau, jangankan warga Indonesia, wisatawan asing sudah mengenal dan mengetahui apa yang ada di Harau”

” Tapi perlu diakuti, bahwa sarana prasarana masih jauh dari standar yang mesti ada pada sebuah objek wisata”

Sarana dan Prasarana

Pak Yatmiko juga menyampaikan, beberapa sarana prasarana penunjang berupa toilet, kamar mandi, tempat beribadah, kios untuk pedagang, jalan menuju lokasi tersebut masih belum memadai untuk mengajak atau meminta orang berkunjung ke Harau.

Objek Wisata Lembah Harau adalah salah satu ikon pariwisata Sumatera Barat (Sumbar) pada saat ini membutuhkan sarana atau fasilitas yang berstandar internasional untuk menunjang sektor pariwisata di lokasi tersebut.

Mendukung Wisata Halal di Sumatera Barat

Untuk itu sarana prasarana mulai dibanahi, baik itu toilet, tempat ibadah, apalagi Sumbar dapat prediket destinasi halal internasional.

Dukungan Dari Dinas yang Lain

Selain itu, dalam memajukan dunia pariwisata, bukan hanya tanggungjawab Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga semata, tapi semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di kabupaten tersebut.

Nisalnya, infrastruktur jalan, tempat ibadah, parkir dan toilet dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum, kemudian Dinas perdagangan membenahi kios-kios untuk pedagang, serta rambu-rambu serta petunjuk arah dilengkapi oleh Dinas Perhubungan.

Menurutnya jika destinasi tersebut sudah dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang layak maka wisatawan berkunjung betah lama untuk menikmati liburan di Lembah Harau.

Ondeeh, Kabupaten Solok Dilanda Bencana Banjir Lagi

Asli Minang Community

Ranah Minang kembali berduka, bencana alam melanda kampuang awak, terutama yang berada di Kabupaten Solok.

Hujan Lebat Luar Biasa

Sejak hari Senin, sudah terjadi hujan deras yang mengguyur Nagari Selayo dan Koto Baru. Hujan pun berlanjut hingga kemarin Hari Selasa,

Akibatnya, sungai dari Batang Lembang jadi meluap hebat. Ini menyebabkan banyak daerah yang tergenang dan bahkan rumah terendam air.

Daerah yang terdampak Banjir

Wilayah bencana meliputi Kecamatan Kubung Kabupaten Solok, tepatnya di Nagari Selayo dan Kotobaru.

Di daerah Rawang Sari dan Kalampayan jorong Galanggang Tangah Selayo. Sejumlah rumah selain dikepung banjir, sebagian di antara warga tidak bisa menyelematkan alat rumah tangga mereka dari sentuhan air yang masuk ke kediaman mereka.

Juga terjadi di sebagian kawasan di Kota Solok, yang menyebabkan aktivitas masyarakat terganggung, baik petani, pedagang, pekerja lainnya.

Kesaksian Warga

Menurut Rahmat, seorang warga Nagari Koto Baru, bahwa terjadi genangan yang cukup tinggi.

“Tinggi air bervariasi, antara satu meter hingga selutut orang dewasa,”

Fasilitas Umum Rusak

Dampak banjir menyebabkan puluhan fasilitas umum, seperti sekolah, mushalla dan dan ruas jalan rusak karena kikisan arus air.

Saksi Lain

Menuturkan juga seorang warga bernama Riki yang merupakan warga Nagari Selayo:

“Ratusan rumah yang selama ini berada di kawasan langganan banjir, tak ayal digenangi air setinggi lutut orang dewasa”

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat

Santiang, Ranah Minang jadi Tuan Rumah Hari Pers Nasional 2018

Asli Minang Community

Bangga awak, karena kegiatan penting jurnalistik yaitu HPN di negara kita akan diadakan di Provinsi Sumatera Barat, kampuang kito.

Hasil Rapat Pleno PWI Pusat

Setelah rapat pleno pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Selasa (21/3) di Jakarta. Dengan final, Provinsi Sumatera Barat akhirnya resmi ditetapkan menjadi Tuan Rumah Hari Pers Nasional (HPN) 2018.

Rapat pleno tersebut selain dihadiri oleh pengurus PWI pusat, juga diikuti oleh tim yang diturunkan PWI Pusat untuk melakukan pemantauan ke daerah yang siap menjadi tuan rumah.

Sambutan PWI Sumbar

Puji syukur Alhamdulillah, karena kemarin tepat pukul 15.00 WIB PWI Sumbar sudah terima surat resmi penetapan tuan rumah HPN.

Berdasarkan informasi, Keputusan tersebut diserahkan dalam bentuk Surat keputusan (SK) yang ditandatanagani Ketua PWI Pusat Margiono dan Sekjen PWI Pusat Hendry CH Bangun.

Kesiapan Sumbar Menyisihkan Daerah Lain

Kita patut berbangga Provinsi Sumatera Barat terpilih sebagai tuan rumah, karena melalui persaingan dan penentuan yang dipengaruhi berbagai faktor.

Provinsi Sumbar sebagai tuan rumah HPN 2018, telah menyisihkan dua daerah lainnya yang yaitu Solo (Surakarta) dan Medan.

The Next Step

Atas ditunjuknya Sumbar menjadi tuannya rumah HPN, maka diperlukan berbagai langkah-langkah penting untung persiapan.

Karenanya dibutuhkan koordinasi antara PWI Pusat, PWI Sumbar dan Pemprov Sumbar. Supaya terjadi sinergi yang maksimal.

Kerjasama dengan Pemerintah Daerah

Mengingat banyaknya aktivitas menjelang pelaksanaan, akan diikuti oleh sejumlah kegiatan pra HPN.

Oleh karena itu tim pelaksana juga memerlukan kerjasama dan koordinas dengan Pemda-pemda untuk penentuan aksi nyata dan perencanaan matang.

Prospek dan Manfaat Bagi Ranah Minang

Dengan menjadi tuan rumah HPN adalah keuntungan tersendiri bagi Provinsi Sumatera Barat nan rancak ini.

Karena ribuan wartawan dari berbagai media secara nasional akan hadir di Sumbar. Mereka akan secara tidak langsung akan mempromosikan Sumbar pada seluruh Indonesia.

Di samping itu semua, tamu yang akan datang tidak hanya wartawan, namun semua tokoh dan pemimpin di Indonesia akan ikut hadir.

Peristiwa berharga ini akan menjadi saat yang tepat dan akan menjadi promosi tidak terhingga bagi Sumbar.

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat.

Wisata Rancak, Kincir Air di Padang Data Simawang

Asli Minang Community

Banyak sekali pesona wisata di kampuang awak ranah minang Sumatera Barat. Ini adalah salah satu objek wisata sekaligus teknologi sederhana nan sangat berguna bagi warga dan pengunjung

Indahnya Kincir Air

Masyarakat di sini menyebutnya Kincia Aia Kamba Tigo, adau kincir air kembar tiga. yang berada di Batang Ombilin. Kata batang artinya adalah sungai.


Membantu Masyarakat

Karena secara geografis Nagari Simawang berada pada ketinggian, maka daerah ini jadi kesulitan tersendiri untuk menaikkan air yang mengalir dari sungai Batang Ombilin ke pemukiman warga dan persawahan.

Selain itu, daerah ini sebagian besar sawah mengandalkan air hujan. Sehingga hasil panen nya sangat dipengaruhi oleh intensitas hujan.

Kondisi ini makin parah ketika musim kemarau tiba, masyarakat Padang Datar harus turun sampai ke Jorong tetangga bahkan sampai ke Ombilin untuk melakukan mandi, cuci, dan kebutuhan keseharian mereka.

Ada yang lebih penting, untuk keperluan berwudhu dan bersuci di beberapa Masjid dan musholla sulit diperoleh.

Peran dan Sumbangsih dari Putra Asli Minang

Sejarah dan asal mula pembuatan kincir air ini sangat mengagumkan. Adanya peran dari perantau dan warga setempat.

Ada seorang warga yang bernama Anwar, beliau adalah warga Padang Datar Nagari Simawang yang menjadi perancang dan inspirator terbangunnya Kincia Aie Raksasa Kamba Tigo.

Dengan segala pengetahuan dan pengalaman nya , ia menginspirasi sekaligus menjadi pelopor perubahan bagi masyarakat di sekitarnya.

Pada tahun 2015 dimulailah inisiatif dan ide Pak Anwar sebagai perancang kincir raksasa Kamba Tigo yang pernah belajar ke Inggris.

Putra Asli Minang dari Padang Datar terinspirasi oleh kincir air yang berada di Inggris. Yang menjadi ide untuk diterapkan.

Berkat usaha Anwar dan kawan-kawan, pada Bulan April 2015 dimulailah pembuatan kincir hingga terealisasi secara penuh pada September 2015.

Warga lain yang bernama Amiruddin menerangkan bahwa dalam proses pembuatan nya lebih dari ratusan orang ber jibaku untuk pembuatan kincir air kamba tigo dan perbaikan jalan menuju ke kincir.

“Hasilnya seperti yang sekarang kita sama -sama bisa menikmati , ini adalah rezeki yang di berikan oleh Yang Maha Kuasa dan berkat kesungguhan kami dalam pembuatan kincir air” kata Amiruddin.

Sekarang, eksistensi Kincia Raksasa Kamba Tigo adalah wujud usaha dan jerih payah masyarakat Jorong Padang Datar Nagari Simawang – Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar – Sumatera Barat dalam mendapatkan air bersih.

Spesifikasi lengkap, Biaya, dan Proses Pembuatan

Secara teknis, spesifikasi kincir air kembar tiga ini terbuat dari bahan bambu dan kayu yang lebih murah biayanya, sederhana pengerjaan, dan ramah lingkungan.

Hanya tonggak penyangga terbuat dari beton cor agar kokoh menahan beban kincir. Air yang telah ditampung oleh bambu-bambu yang terikat pada Kincir dialirkan melalui pipa menuju Tandon Air berukuran 4x 4 X 2 meter.

Dari Tandon Air yang berada kurang lebih 15 meter dari permukaan sungai Batang Ombilin, air akan meluncur melalui pipa baja dan memompa air yang tertampung melalui sebuah pipa hitam berdiameter 2 inchi.

Air dari pipa 2 inchi inilah yang terus mendaki dan mengalir menuju Tandon di atas dekat Masjid Al Istiqomah.

Pompa hidrolik Kincir Air menggunakan tenaga air yang dialirkan oleh tiga kincir tersebut mampu mendaki hingga ketinggian 128 meter dari dasar sungai Batang Ombilin.

Selain itu, juga bisa mengalirkan air bersih sejauh lebih kurang 1200 meter. Dan diperkirakan, dengan kemampuan satu buah pompa yang ada sekarang ini, air yang dipompakan keatas lebih 25 kubik per hari.

Perancang Kincir Air, Anwar sudah memperhitungkan jika ditambah dengan 3 pompa lagi maka kebutuhan air untuk seluruh pemukiman dan persawahan di Jorong Padang Datar sangat tercukupi, bahkan bisa berlebih.

Dari segi biaya, prosses pengerjaan Kincir air Kamba Tigo ini menelan biaya lebih dari 400 juta rupiah. Dari keseluruhan dana pembuatan kincir dan pemeliharaan nya hingga kini masih ditanggung 100 persen oleh para perantau Padang Datar.

Para Perantau tersebut juga membiayai dalam pembelian pipa dan sistem automatis pompa hidrolik yang mendorong air yang bersumber dari kincir air untuk mendorong air ke tempat yang lebih tinggi sehingga bisa di manfatkan secara keseluruhan bagi masyarakat .

Sehingga air yang dialirkan dapat dipakai untuk keperluan masjid , musholla, dan keperluan masyarakat umum yang lebih luas lagi.

Tim Yang Mengoperasikan dan Merawat Kincir Air

Saat ini ada warga hebat yang bernama Amiruddin dan Suhardi yang merawat dan memperbaiki Kincir air tersebut.

Amiruddin merupakan warga asli Padang Datar yang dipercaya oleh Anwar sang perancang kincir untuk memantau dan melakukan pemeliharaan kincir.

Di lain pihak, Anwar sendiri kesehariannya merantau di Jakarta. Ia pulang ke Padang Datar bisa sebulan sekali.

Sekarang, Jadi Tempat Wisata nan Indah

Indahnya Kincir Air Kembar Tiga Ini, karena mengandung nilai seni, estetika, dan keindahan tradisional nan nyata.

Sehingga banyak dari wisatawan yang berkunjung ke tempat ini. Bahkan datang dari tempat yang sangat jauh seperti dari Jakarta, Sumatera Utara, Jambi, Riau, Jambi, dan masih banyak lagi, termasuk turis manca negara.

Wisata Gratis

Sesuai dengan adat Asli Minang kabau, tempat ini tidak dipungut bayaran alias gratis. Lebih hebat lagi, banyak tersedia warung yang menyediakan makanan dan minuman khas yang nikmat, tapi harus bayar, karena dibeli juga ole penjual dari grosir.

Memberi Nilai Ekonomis Bagi Warga Sekitar

Dengan tersedianya banyak warung, berarti menyediakan peluang kerja bagi warga sekitar dalam upaya memenuhi kebutuhan pengunjung baik berupa makanan maupun minuman yang khas Sumatera Barat nan indah elok ini.

Demikianlah Informasinya, semoga bermanfaat.

Rancak, Pesona Seribu Menhir nan Indah di Nagari Maek, Kabupaten Lima Puluah Kota

Asli Minang Community

rancak-pesona-seribu-menhir-nan-indah-di-nagari-maek-kabupaten-lima-puluah-kota

Ada banyak tempat wisata di Ranah Minang Sumatera Barat, tapi sayang, masih ada beberapa keindahan yang sering terlupa, atau jarang kita ketahui.

Nagari Maek nan Banyak Menhir

Nagari “Maek”, ada juga yang meng-Indonesiakan jadi “Mahat” (tapi lucu), adalah sebuah nagari yang berada di Kecamatan Bukit Barisan. Nagari ini berada di Kabupaten Lima Puluah Koto.

Jelajah nan Sulit

Walau jaraknya kira-kira hanya 42 km dari pusat kota Payakumbuh. Tapi untuk dapat mencapai lokasi tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, mengingat jalan menuju daerah yang terdapat di sebuah lembah ini harus melalui jalan berliku, mendaki dan menuruni bukit, medan yang cukup sulit.

Meski sebagian jalannya sudah beraspal mulus, tetapi masih ada kondisi jalan yang rusak parah, sehingga supir harus beberapa kali turun untuk memastikan bahwa mobil dapat melintasi jalan dengan aman.

Perjalanan yang membutuhkan waktu yang cukup lama tersebut sama sekali tidak mampu melahirkan rasa bosan, pasal pemandangan yang menakjubkan terhampar di sepanjang perjalanan.

Dipagari Gunung dan Dialiri Sungai

Alam yang asri di selingkar perbukitan sungguh menawan, cahaya matahari yang jatuh pada salah satu sisi bukit-bukit kecil membuat bukit seolah hijau menyala dan bukit yang lebih tinggi berwarna keabu-abuan nampak dari kejauhan.

Kawasan nan permai ini dipagari oleh perbukitan dan mempunyai tiga anak sungai , yaitu Batang Kincuang, Batang Sugak dan Batang Penawan yang ketiganya masuk ke Batang Maek sebagai sungai terbesar, selain keindahan alam yang mempesona Nagari Mahat juga memiliki situs peninggalan kepurbakalaan yang dapat dijadikan sebagai objek wisata budaya dan penelitian.

Beribu Menhir

Di Kenagarian Maek yang luasnya 115,92 Km2 tersebar peninggalan Kepurbakalaan berupa; Menhir, Batu Dakon, Lumpang Batu, Punden Berundak-undak, Batu Tapak, Batu Jajak Ayam, Balai-balai Batu pembagian wilayah empat Niniak Luak Limo Puluah, Masjid Kuno dan Pesanggerahan masa Pemerintahan hindia Belanda.

Dibandingkan dengan daerah lain di Kabupaten Lima Puluh Kota, Nagari Maek menjadi istimewa, karena memiliki Menhir terbanyak di Kabupaten Lima Puluh Kota hingga dijuluki nagari seribu menhir yang tersebar di setiap jorong di Nagari Mek.

Sekarang, Kondisi Jalan Sudah Lebih Baik

Nagari Maek yang dulu jalan tanah dan batu-batu besar, sekarang sudah mulus oleh aspal. Tepi-tepi tebing yang berhadapan langsung dengan jurang dalam sudah diberi pembatas.

Begitu pula un­tuk komunikasi dengan pon­sel, dahulu harus mencari lokasi tinggi dan memanjat pohon agar bisa telpon-telpo­nan, sekarang jaringan sudah bagus.

Lebih oke lagi, kini dari Nagari Maek sudah bisa up­date status dijejaringan sosial melalui handpone selular.

Nagari Maek kini, jauh berbeda dengan Nagari Maek masa lalu. Daerah ini sekarangsudah jauh maju. Nagari Maek memiliki potensi yang luar biasa untuk dikem­bang­kan. Terutama dari keinda­han alam.

Belum sampai disana, Na­gari Maek juga dikenal da­erah peradaban. Ada lebih ku­rang 100 menhir yang ter­sebar di Nagari Maek. “Men­hir adalah batu besar yang ditancamkan didalam tanah. Ini peninggalan nenek mo­yang ketika masa pera­daban lalu,” ucap warga setempat.

Beberapa tahun bela­kangan ini apalagi memasuki 2016 ini, Nagari Maek jadi daerah tujuan wisata bagi masyarakat. Terutama ma­sya­rakat Kabupaten Lima­puluh Kota. Tak jarang juga, ba­nyak ahli-ahli dari luar negara berdatangan ke Nagari Maek.

Ondeeh, Bencana Angin Kencang di Dharmasraya, Rumah dan Fasilitas Umum Rusak

Asli Minang Community

ondeeh-bencana-angin-kencang-di-dharmasraya-rumah-dan-fasilitas-umum-rusak

Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Ada bencana di kampung kita ranah minang, kali ini terjadi di Kabupaten Dharmasraya.

Bupati Dharmasraya Sutan Rieska Tuanku Karajaan menyampaikan kepada media bahwa telah terjadi bencana angin kencang di kabupaten tersebut.

“Yang sakit kita bantu. Begitupun dengan yang rumahnya rusak sedang kita data, yang jelas kita tidak akan tinggal diam terhadap musibah tersebut. Ini bagian dari tanggungjawab kita”

Kronologis Bencana

Pada Hari Senin tanggal 21 November 2016 pada sore hari sekitar pukul 16.30 wib. Hantaman angin kencang disertai hujan lebat berlangsung hingga pukul 18.00 wib.

Terjadi angin kencang dan hujan lebat yang disertai petir membuat warga ketakutan. Di samping ada rumah yang ditimpa batang kayu, ada juga atap rumah yang diterbangkan angin. Sementara aliran listrik padam akibat banyaknya tiang listrik yang roboh.

Selain itu, puluhan rumah warga, termasuk rumah sekolah, perbankan, warung-warung dan lainnya di Kabupaten Dharmasraya, porak poranda dihantam angin kencang,

Terjadi di Beberapa Kecamatan

Di Kecamatan Pulau Punjung, tepat­nya di Jorong Pulau Punjung Nagari IV Koto, beberapa rumah atapnya terbang, seperti rumah Rosmalidr (75), seluruh atap rumah terbang, menyusul rumah Taflinda (45) sebahagian atap rumahnya juga terbang.

Di lain tempat, ada juga rumah milik Ice (35) tertimpa batang getah yang menimpa bahagian dapur, begitupun dengan rumah Nurhayati yang juga ditimpa batang kayu.

Di sepanjang jalan lintas Sumatera Pulau Punjung se­bagian besar warung-warung terlihat roboh. Atapnya diter­bang­kan angin yang berhembus cukup kuat.

Lebih parah lagi, ada Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Aisyiah Jorong Pasar lama, atapnya juga diterbangkan angin.

Korban Dirawat di Rumah Sakit

Satu korban, Ferawati (36) Warga Lubuk Bulang Kecamatan Pulau Punjung, dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSUD) Su­ngai Dareh, karena mengalami luka saat rumahnya ditimpa pohon kelapa yang tumbang. Hingga saat ini korban masih dirawat di rumah sakit tersebut.

Berikut keterangan dari korban:

“Saya tidak tahu keja­dian awalnya, yang saya tahu tiba-tiba saja saya mendengar suara dentuman. Secara reflek saya langsung keluar dari rumah, rupa­nya batang kelapa sudah tumbang dan menimpa rumah saya”

“Saya sempat terpana beberapa saat dan ketika mulai sadar saya merasakan darah mene­tes di muka saya. Saat itulah saya menyadari jika kening dan batang hidung saya terluka”

“Saya tidak tahu apa penyebabnya, selanjutnya saya langsung dila­rikan tetangga ke Rumah Sakit. Ada 14 jahitan di kening saya. Bagian luar 5 jahitan dan dalam 9 jahitan. Disamping itu kaki bagian kiri juga mengalami beng­kak dan luka lebam,”

Demikian disampaikan oleh Ferawati yang berharap ada ban­tuan dari Pemkab Dharmasraya untuk rehab rumahnya yang han­cur ditimpa pohon kelapa tersebut.

Keterangan Warga Lain

Menurut salah seorang saksi Amrizal (45), melihat korban terluka, maka dia berinisiatif untuk melarikan korban ke rumah sakit dengan kendaraan priba­dinya,

“Rumah korban terbelah batang kelapa dan buah kelapa bertebaran di dalam rumahnya. Begitupun dengan atap yang terbang juga masih dibiarkan, belum dibenahi,”

Menurut Anto (35), rumah milik Eric warga depan Pasar Pulau Punjung ditimpa batang getah. Satu unit mobil korban masih belum dievakuasi karena tertimpa pohon tersebut.

Bantuan Pemerintah Kabupaten

Kepala badan Penanggu­la­ngan bencana Daerah (BPBD) Soewandi menyampaikan, saat ini pihaknya sedang melakukan pen­dataan dan penanganan terhadap korban yang terkena musibah.

“Kita masih di lapangan dan melihat langsung kondisi warga kita, sehingga belum bisa kita prediksikan berapa kerugiaan sesungguhnya. Kita berharap warga tetap waspada untuk menja­ga hal-hal yang tidak diinginkan,”

Bacakak, Prestasi Terbaru Anggota DPRD Kota Padang Panjang

Asli Minang Community

bacakak-prestasi-terbaru-anggota-dprd-kota-padang-panjang

Anggota dewan yang terhormat, kembali menuai prestasi (dalam tanpa kutip, red), mereka menorehkan sejarah yang tidak mudah untuk dilupakan.

Prestasi miring, anggota dewan akhir-akhir ini kerap terjadi di Indonesia, bukan hanya di DPR Pusat, tapi juga di berbagai daerah lain di negara kita yang kaya ini.

Prestasi Itu sampai ke Ranah Minang

Banyaknya berita di televisi dan media online tentang prestasi heboh anggota dewan yang terjadi di berbagai provinsi, akhirnya sampai pula di Sumatera Barat

Halo Padang Panjang

Anggota DPRD Kota Padang Panjang menunjukkan aksi yang memalukan, dimana terjadi aksi pukul memukul yang terjadi di acara resmi

Setelah Kejadian di Sijunjung

Masih hangat beritanya di fikiran kita, bahwa Ketua DPRD Sijunjung ditangkap warga berbuat mesum, yang membuat malu warga Sijunjuang.

Ketika digerebek warga, Ketua DPRD Sijunjung MR tak memakai pakaian utuh. Tubuhnya hanya ditutupi kolor , yang hanya terpasang di satu kaki kirinya.

Pemimpin wakil rakyat di daerah Lansek Manih itu tak berbaju, dan menyuruk di balik daun pintu, kamar selingkuhannya, yang merupakan istri sopir pribadinya.

Bacakak di Tengah Sidang

Prestasi anggota Dewan Kota Padang Panjang, beda lagi, beginilah ceritanya:

Kejadian bermula saat anggota dewan Mahdelmi Dt. Barbanso dan Hendra Saputra saling adu mulut yang berujung saling kejar. Lalu berlanjut saling pukul di tengah-tengah ruangan sidang paripurna dalam membahas KUA-PPAS, Minggu kemarin tanggal 20 November 2016.

Duel tersebut disaksikan langsung Wakil Wali Kota Mawadi yang duduk di jajaran depan bersama Wakil ketua DPRD Yulius Kaisar dan Erizal.

Proses itu berlangsung begitu cepat dan Hendra Saputra menerima pukulan dari Mahdelmi Dt.Barbanso, sehingga bagian wajah Hendra Saputra mengalami luka lebam.

Setelah kejadian itu, kedua belah pihak yang betikai langsung dipisahkan oleh hadirin sidang paripurna dan Mahdelmi Dt.Barbanso dibawa keluar ruangan sidang.

Sementara Hendra Saputra tetap berada di dalam ruangan dan sidang paripurna tetap dilanjutkan dengan agenda pengesahan KUA-PPAS Kota Padangpanjang Tahun 2017.

Menyesal Pula Ternyata

Wakil Ketua DPRD Erizal pun menyampaikan bahwa pihaknya sangat menyesalkan preseden buruk yang terjadi di lembaga DPRD itu.

Kampung Di Atas Awan, Pesona Indah Wisata Pesisir Selatan, tapi Jalan Rusak

Asli Minang Community

kampung-di-atas-awan-pesona-indah-wisata-pesisir-selatan-tapi-jalan-rusak

Ada pesona wisata indah nan berlokasi di Kabupaten Pesisir Selatan, yaitu ada nagari awak yang mendapat julukan “Kampuang Di Ateh Awan” atau Negeri Di Awan.

Ada beberapa nagari yang berada dalam kawasan wisata ini, seperti Nagari Limau Gadang dan Nagari Asam Kumbang.

Warga setempat dan para turis menyebut sebagai “kampung di atas awan”. Ka­re­na saat pagi menjelang siang akan menyaksikan awan bera­da di bawah nagari, sedangkan ketika cuaca panas akan terlihat pemandangan yang menakjubkan.

“Rancak bana, sejauh mata memandang ke bawah bakal terlihat hamparan pemandangan lahan perta­nian, sungai serta perbukitan hijau”

Bahkan kawasan ini sema­kin ramai dikunjungi oleh turis atau wisatawan lokal, maupun mancanegara untuk menik­mati keindahan alam pergunu­ngannya yang masih asri.

Untuk menarik minat wisa­tawan berkunjung, masyarakat Pancung Taba membangun rumah di atas pohon untuk bersantai serta melepaskan lelah sambil menikmati hida­ngan ringan yang disajikan oleh pedagang yang ada di lokasi itu.

Jalan Kabupaten nan Kurang Elok

Tapi sayang, pesona nan indah, tidak diiringi oleh accessibility atau jalan akses transportasi menuju objek wisata tersebut.

Menurut keterangan yang didapat dari salah seorang warga yang bernama Asrial (43) yang merupakan warga Limau-limau, mengatakan bahwa kerusakan jalan menuju kampung mereka sudah berlangsung lama, namun belum ada tanda-tanda diperbaiki.

Warga tersebut menyampaikan dengan antusias pada Hari Selasa tanggal 8 November 2016:

“Kondisi jalan sangat membahayakan ter­hadap penguna jalan, apa­lagi kampung mereka berada pada ketinggian 1500 meter dari permukaan laut”

“Pemukiman kami seperti berada di atas awan dengan tanjakan yang cukup tajam. Ini sangat rawan terhadap kecelakaan, apalagi kondisi jalan yang rusak, jelas sangat beresiko tinggi serta membahayakan,”

Ruas Jalan nan Rusak

Menurut pantauan di lapangan, kondisi ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Kenagarian Asam Kumbang menuju kenagarian Limau Gadang, kecamatan Bayang Utara, semakin parah.

Padahal kawasan ini di kenal wisatawan dengan julukan “Kampung Di Atas Awan”.

Selain itu, pada jalur yang sama ke­rusakan jalan juga terdapat dari Koto Ranah menuju Mu­ara Air, jalannya sempit dan banyak lobang dengan posisi bibir jalan berada pada jurang yang curam.

Bahaya Bagi Pengendara

Melihat kondisi jalan tersebut, maka bagi setiap pe­ngendaran kurang waspada, dikhawatirkan bakal jatuh masuk ke dalam jurang yang berada pada sisi jalan.

Keterangan dari Camat Setempat

Melalui wawancara, Camat Kecamatan Bayang Utara Kabupaten Pes­isir Selatan yang bernama Ronald Bernando menga­takan:

“Ruas jalan dari Asam Kumbang menuju Muara Air itu sudah menjadi jalan provinsi yang dipersiapkan sebagai jalan alternatif yang menghubungkan Pasar Baru Bayang menuju Alahan Pan­jang kabupaten Solok”

Sementara itu, jalan dari Mua­ra Air menuju kampung Limau-limau, merupakan jalan kabupaten yang yang perlu menjadi perhatian serius

Pemda Pessel untuk dapat membebaskan masyarakat kam­pung Ngalau Gadang, masyarakat Limau-limau dan Pancung Taba dari keterisoliran dan keterbelakangan.

Pak Camat pun menyampaikan:

“Kampung Limau Limau di kenagariam Limau Gadang merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi wisata. Daerah ini berada pada ke­tinggian,”.

Menambahkan Pak Camat, “masya­rakat sangat mengharapkan kepada Pemda Pessel untuk dapat memperbaiki jalan yang rusak tersebut supaya menjadi jalan yang memadai.”

Begitulah harapan besarnya, setidaknya akan dapat menekan angka kecelakaan bagi penguna ja­lan, dan meningkatkan kunju­ngan wisatawan ke Pessel.

Segeh, Kawasan Simancuang, Wisata Kampung Tradisional nan Alami Sejati

Asli Minang Community

segeh-kawasan-simancuang-wisata-kampung-tradisional-nan-alami-sejati

Kawasan Simancuang nan terletak di Kabupaten Solok Selatan merupakan kawasan wisata yang selama ini jarang jadi perhatian.

Padahal ada pesona tersembunyi yang dimiliki Simancuang, dimana kegiatan masyarakat Simancuang memang masih menggunakan cara konvensional yang belum terkontaminasi oleh moderenisasi.

“Salah satunya, tidak dibenarkan melakukan penangkapan ikan atau belut menggunakan setrum listrik, racun ataupun jala sehingga kami berencana mengembangkan daerah itu sebagai destinasi wisata kampung tradisional,”

Demikian disampaikan oleh Bupati Solok Selatan (Solsel) Muzni Zakaria yang disampaikan pada media pada tanggal 2 November 2016.

Ternyata kenyataan di lapangan, kearifan lokal di Simancung masih terjaga dan salah satu wilayah yang memiliki hutan nagari yang masih terjaga ekosistimnya.

“Dan ini mendapat pengakuan Internasional” demikian ditambahkan oleh Bapak Bupati.

Berdasarkan perencanaan yang disampaikan Pak Bupati, pada tahun 2017 akan kembangkan kawasan wisata Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo sebagai kampung tradisional.

Dengan dikembangkannya kampung tradisional ini, wisatawan yang berkunjung memiliki banyak referensi objek wisata selain yang tengah dikembangkan dan ditata saat ini, yakni Kawasan Seribu Rumah Gadang, Hot Water Boom Sapan Maluluang, dan air terjun Kembar.

“Dengan melibatkan Jurnalis kita akan menggunjungi sejumlah air terjun yang mungkin nanti bisa dikembangkan untuk menjadi destinasi wisata,” ujarnya.

Di lain pihak, Wakil Ketua DPRD Solsel, Armen Syahjohan meyebutkan pihaknya mendukung penuh program pemkab Solsel untuk mengembangkan Simancung sebagai kampung tradisonal.